jump to navigation

Al-Quran turun pada malam Lailatul Qadr bukan Malam ‘Nuzulul Quran’ 17 Ramadhan Agustus 16, 2011

Posted by NgajiMod in Tak Berkategori.
3 comments

Ketika memasuki malam yang ke 17 di bulan Ramadhan sebagian kaum muslimin dan masjid-masjid mulai diadakan peringatan turunnya al-Quran pertama kali yang disebut malam peringatan Nuzulul Quran. Hal ini juga ‘terkesan’ dikuatkan dengan catatan kaki dalam “al-Quran dan Terjemahnya” surat adh-Dhukhan ayat 3.

إِنَّآ أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُّبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنذِرِينَ

Sesungguhnya kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi[1369] dan Sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.

[1369] malam yang diberkahi ialah malam Al Quran pertama kali diturunkan. di Indonesia umumnya dianggap jatuh pada tanggal 17 Ramadhan.

Keyakinan ini bertentangan dengan firman Allah subhanahu wa ta’alaa dalam surat al-Qadr ayat pertama:

إِ نَّآ أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan[1593].”

[1593] Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, Karena pada malam itu permulaan Turunnya Al Quran.

Ayat diatas dengan jelas bahwa al-Quran diturunkan pada malam kemulian (Lailatul Qadar) dan juga Terlihat jelas bahwa catatan kaki untuk ayat di atas dalam “al-Quran dan Terjemahnya” juga menjelaskan bahwa malam permulaan turunnya al-Quran adalah pada malam tersebut. Sekarang yang menjadi pertanyaan, kapan terjadinya malam Lailatul Qadar, malam dimana al-Quran itu turun ? apakah benar pada 17 Ramadhan seperti yang selama ini oleh sebagian kaum muslimin Indonesia mempertingatinya ?

Nabi shallahu’alaihi wa sallam pernah mengabarkan kepada kita tentang kapan akan datangnya malam Lailatul Qadar. Beliau pernah bersabda:

“Carilah malam Lailatul Qadar di (malam ganjil) pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan” (Hadits Riwayat Bukhari 4/225 dan Muslim 1169)

Beliau shallahu’alaihi wa sallam juga bersabda:

“Berusahalah untuk mencarinya pada sepuluh hari terakhir, apabila kalian lemah atau kurang fit, maka jangan sampai engkau lengah pada tujuh hari terakhir” (Riwayat Bukhori dan Muslim)

Dengan demikian telah jelas bahwa lailatul qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan yaitu pada malam-malam ganjilnya 21, 23, 25, 27 atau 29. Maka gugurlah keyakinan sebagian kaum muslimin yang menyatakan bahwa turunya al-Quran pertama kali pada tanggal 17 Ramadhan.

Jika ada yang berargumen, “Tanggal 17 Ramadhan yang dimaksud adalah turunnya al-Quran ayat pertama ke dunia kepada Nabishallallahu’alaihi wa sallam yaitu surat al-‘Alaq  ayat 1-5, sedangkan Lailatul qadar pada surat al-Qadar adalah turunnya al-Quran seluruhnya dari lauhul mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia !!?”.

Maka jawabnya: Benarbahwa turunnya al-Quran yaitu pada Lailatul qadar seperti yang tertuang dalam surat al-Qadar adalah turunnya al-Quran dari Lauhul Mahfudz ke Baitul Izzah di langit dunia, dan setelah itu al-Quran diturunkan secara bertahap selama 23 tahun. Seperti perkataan Ibnu Abbas radliyallahu’anhu dan yang lainnya ketika menafsirkan QS. Ad-Dukhon ayat 3:

“Allah menurunkan al-Quran sekaligus daru Lauh Mahfudz ke baitul izzah (rumah kemuliaan) di langit dunia kemudian Allah menurunkannya secara berangsur-angsur sesuai dengan berbagai peristiwa selama 23 tahun kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam.” (Tafsir Ibnu Katsir 8/441)

Tetapi apakah ini menjadikan bahwa benar nya pendapat bahwa turunnya ayat pertama (QS. Al-‘Alaq: 1-5) kepada Nabi shallallahu’alaihi wa sallam adalah 17 Ramadhan ?? mari kita simak pembahasan dibawah ini.

Pendapat bagus syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarokfury di Kitab Sirohnya tentang kapan awal permulaan wahyu

Dalam kitab siroh beliau, beliau menjelaskan bahwa memang ada perbedaan pendapat diantara pakar sejarah tentang kapan awal mula turunnya wahyu, yaitu turunnya surat Al-Alaq: 1-5. Beliau menguatkan pendapat yang menyatakan pada tanggal 21. Beliau mengatakan:

“Kami menguatkan pendapat yang menyatakan pada tanggal 21, sekalipun kami tidak melihat orang yang menguatkan pendapat ini. Sebab semua pakar biografi atau setidak-tidaknya mayoritas di antara mereka sepakat bahwa beliau diangkat menjadi Rasul pada ahari senin, hal ini diperkuat oleh riwayat para imam hadits, dari Abu Qotadah radliyallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallampernah ditanya tentang puasa hari senin. Maka beliau menjawab,

“Pada hari inilah aku dilahirkan dan pada hari ini pula turun wahyu (yang pertama) kepadaku.”

Dalam lafdz lain disebutkan, “Itulah hari aku dilahirkan dan pada hari itu pula aku diutus sebagai rasul atau turun wahyu kepadaku”

Lihat shahih Muslim 1/368; Ahmad 5/299, Al-Baihaqi 4/286-300, Al-Hakim 2/602.

Hari senin dari bulan Ramadhan pada tahun itu adalah jatuh pada tanggal 7, 14, 21, dan 28. Beberapa riwayat yang shahih telah menunjukkan bahwa Lailatul Qodar tidak jatuh kecuali pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan. Jadi jika kami membandingkan antara firman Allah, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada Lailatul Qodar”, dengan riwayat Abu Qotadah, bahwa diutusnya beliau sebagai rasul jatuh pada hari senin, serta berdasarkan penelitian ilmiah tentang jatuhnya hari senin dari bulan Ramadhan pada tahun itu, maka jelaslah bagi kami bahwa diutusnya beliau sebagai rasul jatuh pada malam tanggal 21 dari Bulan Ramadhan. (Lihat Kitab Siroh Nabawiyyah oleh Syaikh Shafiyyurrahman al-Mubarokfury Bab Di Bawah Naungan Nubuwah, hal. 58 pustaka al-Kautsar)

Maka jelaslah bahwa pendapat kapan al-Quran turun, baik al-Quran turun dari Baitul Izzah ke langit dunia atau dari langit dunia ke Rasulullah keduanya  saling melengkapi, dan bukan terjadi di 17 Ramadhan. Wallahu’alam.

Yang bisa dipetik dari pembahasan di atas

  1. Al-Quran diturunkan pada malam lailatul qadar bukan pada malam yang dikenal dengan malam ‘Nuzulul Quran’ yang bertepatan pada tanggal 17 Ramadhan.
  2. Lebih khusus lagi bahwa turunnya wahyu kepada Rasulullah shalallallahu’alaihi wa sallam yang pertama adalah 21 Ramadhan, seperti pendapat syaikh Shafiyyurahman.
  3. Peringatan Nuzulul Quran 17 Ramadhan dengan dzikir tertentu dan bentuk pengajian khusus adalah bentuk peringatan yang tidak pernah ada landasannya dari al-Quran dan Hadist Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, sehingga termasuk dalam perkara bid’ah.
  4. Lailatul qadar terjadi pada sepuluh malam terakhir yang ganjil dibulan Ramadhan.
  5. Peringatan lailatul qadar pada malam 27 Ramadhan (atau malam ganjil lainnya) dengan suatu pengajian khusus juga merupakan bid’ah karena Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam tidak pernah memperingatinya melainkan beliau shallahu’alahi wa sallam menghidupkan malam tersebut dengan qiyamul lail dan memperbanyak doa.
  6. Himbauan kepada para penanggung jawab “al-Quran dan Terjemahnya” agar meluruskan catatan kaki atau takwil-takwil dari ayat suci al-Quran yang hanya merupakan anggapan-anggapan yang tidak berdalil atau bahkan tafsiran/takwil yang bathil.

Referensi

  • Ustadz Aunur Rofiq. Nuzulul Quran pada bulan Romadhon. Majalah al-Furqon Edisi 84, th ke-8 1429/ 2008
  • Abu Musa al-Atsari. Lailatul Qadar Malam Kemulian. Majalah adz-Dzakiroh Edisi 43, Edisi Khusus Ramadhan-Syawal, Vol 8, No.1 1429 H
  • Al-Quran dan Terjemahnya
  • Siroh Nabawiyah, oleh Syaikh Shafiyyurahman al-Mubarokfury
Sumber: http://maramissetiawan.wordpress.com/2008/09/13/al-quran-turun-pada-malam-lailatul-qadr-bukan-malam-%E2%80%98nuzulul-quran%E2%80%99-17-ramadhan/

BELAJAR BAHASA ARAB YUKS…….. Juni 30, 2011

Posted by NgajiMod in Tak Berkategori.
1 comment so far

Tidak perlu diragukan lagi, memang sepantasnya seorang muslim mencintai bahasa Arab dan berusaha menguasainya. Allah telah menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa Al-Qur’an karena bahasa Arab adalah bahasa yang terbaik yang pernah ada sebagaimana firman Allah:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al Quran dengan berbahasa Arab, agar kamu memahaminya.”

Ibnu katsir berkata ketika menafsirkan surat Yusuf ayat 2 di atas: “Yang demikian itu (bahwa Al -Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab) karena bahasa Arab adalah bahasa yang paling fasih, jelas, luas, dan maknanya lebih mengena lagi cocok untuk jiwa manusia. Oleh karena itu kitab yang paling mulia (yaitu Al-Qur’an) diturunkan kepada rosul yang paling mulia (yaitu: Rosulullah), dengan bahasa yang termulia (yaitu Bahasa Arab), melalui perantara malaikat yang paling mulia (yaitu malaikat Jibril), ditambah kitab inipun diturunkan pada dataran yang paling mulia diatas muka bumi (yaitu tanah Arab), serta awal turunnya pun pada bulan yang paling mulia (yaitu Romadhan), sehingga Al-Qur an menjadi sempurna dari segala sisi.” (Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir surat Yusuf).

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Berkata: “Sesungguhnya ketika Allah menurunkan kitab-Nya dan menjadikan Rasul-Nya sebagai penyampai risalah (Al-Kitab) dan Al-Hikmah (As-sunnah), serta menjadikan generasi awal agama ini berkomunikasi dengan bahasa Arab, maka tidak ada jalan lain dalam memahami dan mengetahui ajaran Islam kecuali dengan bahasa Arab. Oleh karena itu memahami bahasa Arab merupakan bagian dari agama. Keterbiasaan berkomunikasi dengan bahasa Arab mempermudah kaum muslimin memahami agama Allah dan menegakkan syi’ar-syi’ar agama ini, serta memudahkan dalam mencontoh generasi awal dari kaum Muhajirin dan Anshar dalam keseluruhan perkara mereka.” (Iqtidho Shirotil Mustaqim).

Sungguh sangat menyedihkan sekali, apa yang telah menimpa kaum muslimin saat ini, hanya segelintir dari mereka yang mau mempelajari bahasa Arab dengan serius. Hal ini memang sangat wajar karena di zaman modern ini banyak sekali kaum muslimin tenggelam dalam tujuan dunia yang fana, Sehingga mereka enggan dan malas mempelajari bahasa Arab. Karena mereka tahu tidak ada hasil duniawi yang bisa diharapkan jika pandai berbahasa Arab. Berbeda dengan mempelajari bahasa Inggris, kaum muslimin di saat ini begitu semangat sekali belajar bahasa Inggris, karena mereka tahu banyak tujuan dunia yang bisa diperoleh jika pandai bahasa Inggris, sehingga kita dapati mereka rela untuk meluangkan waktu yang lama dan biaya yang banyak untuk bisa menguasai bahasa ini. Sehingga kursus-kursus bahasa Inggris sangat laris dan menjamur dimana-mana walaupun dengan biaya yang tak terkira. Namun bagaimana dengan kursus bahasa Arab…??? seandainya mereka benar-benar yakin terhadap janji Allah Ta’ala untuk orang yang menyibukkan diri untuk mencari keridhoanNya, serta yakin akan kenikmatan surga dengan kekekalannya, niscaya mereka akan berusaha keras untuk mempelajari bahasa arab. Karena ia adalah sarana yang efektif untuk memahami agama-Nya.

Kenyataan ini tidak menunjukkan larangan mempelajari bahasa Inggris ataupun lainnya. Tapi yang tercela adalah orang yang tidak memberikan porsi yang adil terhadap bahasa arab. Seyogyanya mereka juga bersemangat dan bersungguh-sungguh dalam mempelajari bahasa Arab.

Syaikh Utsaimin pernah ditanya: “Bolehkah seorang penuntut ilmu mempelajari bahasa Inggris untuk membantu dakwah ?” Beliau menjawab: “Aku berpendapat, mempelajari bahasa Inggris tidak diragukan lagi merupakan sebuah sarana. Bahasa Inggris menjadi sarana yang baik jika digunakan untuk tujuan yang baik, dan akan menjadi jelek jika digunakan untuk tujuan yang jelek. Namun yang harus dihindari adalah menjadikan bahasa Inggris sebagai pengganti bahasa Arab karena hal itu tidak boleh. Aku mendengar sebagian orang bodoh berbicara dengan bahasa Inggris sebagai pengganti bahasa Arab, bahkan sebagian mereka yang tertipu lagi mengekor (meniru-niru), mengajarkan anak-anak mereka ucapan “selamat berpisah” bukan dengan bahasa kaum muslimin. Mereka mengajarkan anak-anak mereka berkata “bye-bye” ketika akan berpisah dan yang semisalnya. Mengganti bahasa Arab, bahasa Al-Qur’an dan bahasa yang paling mulia, dengan bahasa Inggris adalah haram. Adapun menggunakan bahasa Inggris sebagai sarana untuk berdakwah maka tidak diragukan lagi kebolehannya bahwa kadang-kadang hal itu bisa menjadi wajib. Walaupun aku tidak mempelajari bahasa Inggris namun aku berangan-angan mempelajarinya. terkadang aku merasa sangat perlu bahasa Inggris karena penterjemah tidak mungkin bisa mengungkapkan apa yang ada di hatiku secara sempurna.” (Kitabul ‘Ilmi).

Dan termasuk hal yang sangat menyedihkan, didapati seorang muslim begitu bangga jika bisa berbahasa Inggris dengan fasih namun mengenai bahasa Arab dia tidak tahu?? Kalau keadaannya sudah seperti ini bagaimana bisa diharapkan Islam maju dan jaya seperti dahulu. Bagaimana mungkin mereka bisa memahami syari’at dengan benar kalau mereka sama sekali tidak mengerti bahasa Arab…???

(lebih…)

Sahabatku, Semoga Engkau Mengetahui Hak-hak Ini April 29, 2011

Posted by NgajiMod in Tak Berkategori.
3 comments

Saudaraku yang semoga dirahmati Allah. Sungguh persahabatan merupakan suatu karunia dari Allah Ta’ala. Sebagaimana firman Allah yang artinya,“Lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara” (Ali Imron : 103). Ini adalah nikmat Allah yang sangat agung. Maka seharusnya kita menjaganya dengan memperhatikan hak-hak di antara sahabat. Pembahasan berikut, berisi sebagian hak-hak persahabatan yang seharusnya diperhatikan oleh orang-orang yang mengikat tali tersebut.

Bersahabatlah karena Allah

Ingatlah wahai saudaraku -semoga Allah menunujuki kita untuk taat kepada-Nya-, bahwa tujuan kita bersahabat adalah senantiasa untuk mengaharap ridho Allah Ta’ala. Dan janganlah sekali-kali persahabatan tersebut dijadikan untuk mendapatkan kepentingan dunia semata.

Persahabatan yang dilandaskan saling cinta karena Allah itulah yang akan mendapatkan manisnya iman, sebagaimana Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,”Ada tiga perkara yang apabila seseorang memilikinya akan mendapatkan manisnya iman, yaitu Allah dan Rosul-Nya lebih dia cintai daripada selain keduanya, diamencintai seseorang tidaklah dia mencintainya kecuali karena Allah, dan dia tidak suka kembali kepada kekufuran setelah Allah membebaskan darinya sebagaimana ia tidak suka dilemparkan ke dalam api.” (HR. Bukhari)

Di samping itu, persahabatan seperti inilah yang akan kekal hingga hari kiamat nanti, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman yang artinya,”Teman-teman akrab pada hari (kiamat) nanti sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”(QS. Az Zukhruf : 67).

Imam Ibnu Katsir rohimahulloh mengatakan bahwa setiap persahabatan yang dilandasi cinta karena selain Allah, maka pada hari kiamat nanti akan kembali dalam keadaan saling bermusuhan. Kecuali persahabatannya dilandasi cinta karena Allah ‘azza wa jalla, inilah yang kekal selamanya. (Tafsir Ibnu Katsir)

Maka perhatikanlah wahai saudaraku, sudah benarkah niat kita dalam bersahabat?! Apakah persahabatan tersebut hanya untuk menyelesaikan urusan duniawi semata?!! Setelah urusan tersebut selesai, kita meninggalkan sahabat kita!! Ingatlah, persahabatan yang benar adalah persahabatan yang dilandasi cinta karena Allah, yaitu seseorang mencintai sahabatnya karena tauhid yang dia miliki, pengagungan dia kepada Allah, dan semangatnya dalam mengikuti sunnah Nabi shollallohu ‘alaihi wa sallam.

Berbuat Itsar-lah pada Sahabatmu

Di antara hak terhadap sesama yang dianjurkan adalah mendahulukan sahabatnya dalam segala keperluan (baca : itsar, dalam hal duniawi) dan perbuatan ini dianjurkan (mustahab).

Perhatikanlah firman Allah Ta’ala yang artinya,”Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan” (QS. Al Hasyr : 9).

Kaum Anshor yang terlebih dahulu menempati kota Madinah, mereka mendahulukan saudara mereka dari kaum Muhajirin dalam segala keperluan, padahal mereka sendiri membutuhkannya.

Sungguh sangat menakjubkan, seorang sahabat Anshor yang memiliki dua istri ingin menceraikan salah satu istrinya. Kemudian setelah masa ‘iddahnya berakhir dia ingin menikahkannya dengan sahabatnya dari kaum muhajirin. Adakah bentuk itsar yang lebih daripada ini?!! (Aysarut Tafaasir, Syaikh Abu Bakr Jabir Al Jazairi)

Perbuatan itsar ini hanya berlaku untuk urusan duniawi (seperti mendahulukan saudara kita dalam makan dan minum). Sedangkan dalam masalah ketaatan (perkara ibadah), perbuatan ini terlarang. Karena maksud dari ibadah adalah pengagungan kepada Allah Ta’ala. Maka barangsiapa yang mendahulukan saudaranya dalam hal ini, berarti dia telah meninggalkan pengagungan terhadap Allah Ta’ala yang dia sembah. Oleh karena itu, kita tidak diperbolehkan mendahulukan saudara kita (itsar) untuk menempati shaf pertama dalam sholat berjama’ah, sedangkan kita di shaf belakang. (Lihat Al Wajiz fii Iidhohi Qowa’id Al Fiqhi Al Kulliyati)


Bantulah Sahabatmu yang Berada dalam Kesulitan

Misalnya ada saudara kita yang membutuhkan bantuan pinjaman uang. Maka berusahalah untuk menolongnya dengan memberi pinjaman hutang padanya. Karena pemberian hutang yang pertama kali merupakan kebaikan. Sedangkan pemberian hutang kedua kalinya adalah sedekah. Sebagaimana dalam hadits riwayat Ibnu Majah, Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,”Barangsiapa yang memberi hutang kepada saudaranya kedua kalinya, maka dia seperti bersedekah padanya.

Jagalah Kehormatan Sahabatmu

Wahai saudaraku, jagalah kehormatan sahabatmu, karena Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda pada khutbah ketika haji Wada’ yang artinya,”Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, dan kehormatan kalian adalah haram.” (HR. Bukhari, Muslim, dan lainnya).

Di antara bentuk menjaga kehormatan saudara kita adalah menjaga rahasianya yang khusus diceritakan pada kita. Rahasia tersebut adalah amanah dan kita diperintahkan oleh Allah untuk selalu menjaga amanah. Rasulullah shollallohu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya,”Apabila seseorang membicarakan sesuatu padamu, kemudian dia menoleh kanan kiri, maka itu adalah amanah.“(HR. Abu Daud dalam sunannya). Perbuatan seperti ini saja dilarang, apalagi jika sahabatmu tersebut memintamu untuk tidak menceritakannya pada orang lain. Maka yang demikian jelas lebih terlarang. (Huququl Ukhuwah, Syaikh Sholeh Alu Syaikh).

Semoga dengan mengamalkan hak-hak ini, kita akan menjadi orang-orang yang akan mendapatkan naungan Allah di akherat kelak, di mana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya. Amin.

Penulis: Muhammad Abduh Tuasikal

Artikel http://rumaysho.com

Artikel Buletin At Tauhid yang terbit setiap Jum’at di sekitar kampus UGM, Yogyakarta

Rahasia Memahami Islam April 14, 2011

Posted by NgajiMod in Tak Berkategori.
add a comment

Ada banyak orang yang ingin belajar dan memahami agama ini. Akan tetapi tidak sedikit yang belum juga dengan baik memahami islam meskipun usianya sudah beranjak senja. Mereka mungkin sudah belajar, tetapi tetap mengalami kesulitan. Apalagi mereka yang memang dilalaikan untuk belajar agama ini.

Maka muncul pertanyaan, bagaimana cara sebenarnya untuk memahami islam dengan baik?

Untuk menjawab pertanyaan ini, kami menyadur tulisan Syaikh Rabi’ Ibnu Hadi ketika beliau pernah ditanya apa makna ayat,

و اتّقوا الله و يعلمكم الله

Bertakwalah kepada Allah dan Allah akan mengajarimu.

Maka beliau menjawab, sesungguhnya Allah memberikan cahaya dalam pandangan orang-orang yang bertakwa dan diberikan kepahaman kepada mereka terhadap agama ini. Artinya bahwa pada dirinya terdapat kebaikan yang banyak, sebagaimana hadits rasulullah,

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

Barang siapa yang Allah kehendaki atasnya kebaikan, diberikan kepahaman terhadap agama.

Dengan ketakwaan seorang hamba, maka akan Allah berikan atasnya nikmat berupa kemudahan untuk memahami makna alquran dan sunnah. Dan ia akan berusaha untuk senantiasa berada di jalan sunnah. Ia diberikan taufik dan ilmu oleh Allah untuk senantiasa mentadaburi makna Al-quran. Mereka adalah orang-orang yang menjawab ayat Allah,

أفلا يتدبرون القرآن أم على قلوب أقفالها

Apakah kalian tidak mentadaburi alquran atau hatinya terkunci?

Sungguh, mereka yang tidak memahami agama ini adalah orang-orang yang Allah tidak menghendaki kebaikan padanya. Mereka bukanlah orang yang bertakwa. Karena sungguh orang-orang yang bertakwa itu sangat berbeda dengan mereka yang sombong, keras hati, dan suka berbuat kerusakan.

Mereka berbeda dengan orang-orang beriman yang bertakwa yang senantiasa mentaati seruan Allah dan rasul,

يا أيّها الذين آمنوا اتّقوا الله و آمنوا برسوله

Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan berimanlah kepada rasul,

Maksudnya, orang-orang yang beriman, mereka akan mengerjakan apapun yang Allah dan rasul perintahkan, serta menjauhkan dirinya dari apapun yang dilarang oleh Allah dan rasul. Mereka adalah orang-orang yang istiqomah dan kuat berjuang dan berdakwa di jalan Allah atas dasar ilmu, sebagaimana Allah berfirman,

قل هذه سبيلي أدعو إلى الله على بصيرة

Katakanlah inilah jalanku yang aku menyeru kepada Allah di atas bashiroh (ilmu yang menyakinkan)

Orang-orang yang bertakwa dimudahkan atasnya kebaikan dan pemahaman terhadap agama ini. Bahkan Allah memberikan pengetahuan kepada orang yang bertakwa untuk mengetahui hal-hal yang khusus dari ajaran islam berkenaan dengan syariat.

Orang-orang yang beriman mempunyai kelebihan ini karena hati mereka bagaikan kaca bersih yang menerima cahaya. Ilmu yang didapatkannya langsung merasuk ke dalam dadanya. Bukan sekedar hapalan, tetapi menjadi karakter.

Maka dari hal ini bisa diambil pelajaran bahwa sesungguhnya Allahlah yang memberikan taufik kepada manusia, memberikan pertolongan bahkan yang memberikan kepahaman terhadap alquran, paham sunnah, menjaga alquran dan sunnah.

Semua memerlukan sebab, dan sebab yang paling utama untuk mendapatkannya adalah dengan ketakwaan. Siapa yang ingin paham dengan agama ini dan mendapatkan berbagai kebaikan, maka hendaknya ia menjadi orang yang bertakwa.

Semoga kita semua menjadi orang-orang yang bertakwa dan diberikan kepahaman terhadap agama ini. Wallahu a’lam.

Delhi, 2 April 2011
(Abu Nuzulia Afrahunnisa)

Mengenal Ulama: Dr. Zakir Abdul-Karim Naik – President, IRF April 9, 2011

Posted by NgajiMod in Tak Berkategori.
add a comment
A medical doctor by professional training, Dr. Zakir Naik is renowned as a dynamic international orator on Islam and ComparativeReligion. Dr. Zakir Naik is the president of Islamic Research Foundation, Mumbai. Dr. Zakir clarifies Islamic viewpoints and clears misconceptions about Islam, using the Qur’an, authentic Hadith and other religious Scriptures as a basis, in conjunction with reason, logic and scientific facts. He is 44 years old.
He is popular for his critical analysis and convincing answers to challenging questions posed by audiences after his public talks. In the last 13 years (by the year 2009) Dr. Zakir Naik has delivered more than 1300 public talks in the U.S.A., Canada, U.K., Italy, Saudi Arabia, Egypt, U.A.E., Kuwait, Qatar, Bahrain, Oman, Australia, New Zealand, South Africa, Botswana, Malaysia, Singapore, Hong Kong, Thailand, Guyana (South America), Trinidad, and many other countries, in addition to numerous public talks in India.

He has successfully participated in several symposia and dialogues with prominent personalities of other faiths. His public dialogue with Dr. William Campbell (of USA) on the topic “The Qur’an and the Bible in the light of Science” held in Chicago, U.S.A., in April, 2000 was a resounding success.

His Interfaith Dialogue with prominent Hindu Guru Sri Sri Ravi Shankar on the topic ‘The  Concept of God in Hinduism and Islam in the light of Sacred Scriptures’ held at Palace Grounds, Bangalore, on 21st Jan. 2006, was highly appreciated by people of both the faiths.

In the issue dated 22nd Feb. 2009 of the Indian Express list of the “100 Most Powerful Indians in 2009” amongst the billion plus population of India, Dr. Zakir Naik was ranked No. 82. In the special list of the “Top 10 Spiritual Gurus of India” Dr. Zakir Naik was ranked No. 3, after Baba Ramdev and Sri Sri Ravi Shankar, being the only Muslim in the list.

Dr. Zakir Naik stood out most eloquently for Islam and Muslims in the present times on one of the leading and most respected News Channel of India, NDTV 24 x 7, during the ‘Guest this week’ interview programme “Walk the Talk” conducted by host Shekhar Gupta (Editor-in-Chief of Indian Express) telecast on 7th and 8th March 2009.

The Sunday EXPRESS, dated 31st January 2010, published The Indian Express list of the “100 MOST POWERFUL INDIANS IN 2010” amongst the Billion Plus population of India, with 36 names from the “2009 List” deleted, wherein:-

1) Dr. ZAKIR NAIK was ranked No. 89.

2) From amongst the few Muslims in this list of 100, Dr. ZAKIR NAIK is the ONLY MUSLIM ISLAMIC PREACHER / SCHOLAR / ORATOR. The others being a Political Secretary, a Politician, a Government Official, a Business Magnate and 3 Film Personalities.

3) Amongst the “Spiritual/Religious Gurus” though he was the only Muslim and No. 3 in 2009 list, this year (2010) Dr. Zakir Naik TOPPED the List of Spiritual / Religious Gurus at No. 89, for preaching of Islam, followed by Jaggi Vasudev (at No. 94, for his trees planting work), Baba Ramdev (at No. 99, for his Yoga work) and Sri Sri Ravi Shankar (at No. 100, for his Sudarshan Kriya breathing technique work) respectively.

4) Dr. Zakir Naik was recently also selected and listed in “The 500 Most Influential Muslims in the World” (without rankings) published by the George Washington University, USA.

Sheikh Ahmed Deedat, the world famous orator on Islam and Comparative Religion, who had called Dr. Zakir “Deedat Plus” in 1994, presented a plaque in May 2000 with the engraving “Awarded to Dr. Zakir Abdul-Karim Naik for his achievement in the field of Da’wah and the study of Comparative Religion. Son what you have done in 4 years had taken me 40 years to accomplish, Alhamdulillah”.

Dr. Zakir Naik appears regularly on many international TV channels in more than 200 countries of the world. He is regularly invited for TV and Radio interviews. More than a hundred of his talks, dialogues, debates and symposia are available on DVDs and VCDs. He has authored many books on Islam and Comparative Religion.

source: http://www.irf.net

WAKTU-WAKTU SHOLAT DAN BATAS AKHIR WAKTU SHOLAT Maret 12, 2011

Posted by NgajiMod in Tak Berkategori.
1 comment so far

Waktu-waktu Shalat


Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

إِنَّ الصَّلاَةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Sesungguhnya shalat itu merupakan kewajiban yang ditetapkan waktunya bagi kaum mukminin.” (An-Nisa`: 103)

أَقِمِ الصَّلاَةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَى غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْءَانَ الْفَجْرِ إِنَّ قُرْءَانَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan dirikan pula shalat subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan oleh malaikat.” (Al-Isra`: 78)

Shalat dianggap sah dikerjakan apabila telah masuk waktunya. Dan shalat yang dikerjakan pada waktunya ini memiliki keutamaan sebagaimana ditunjukkan dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu:

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم: أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللهِ؟ قَالَ: الصَّلاَةُ عَلَى وَقْتِهَا. قَالَ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: بِرُّ الْوَالِدَيْنِ. قَالَ: ثُمَّ أَيُّ؟ قَالَ: الْجِهَادُ فِي سَبِيْلِ اللهِ

Aku pernah bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, “Amal apakah yang paling dicintai oleh Allah?” Beliau menjawab, “Shalat pada waktunya.” “Kemudian amalan apa?” tanya Ibnu Mas`ud. “Berbuat baik kepada kedua orangtua,” jawab beliau. “Kemudian amal apa?” tanya Ibnu Mas’ud lagi. “Jihad fi sabilillah,” jawab beliau.” (HR. Al-Bukhari no. 527 dan Muslim no. 248)

Sebaliknya, bila shalat telah disia-siakan untuk dikerjakan pada waktunya maka ini merupakan musibah karena menyelisihi petunjuk Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, seperti yang dikisahkan Az-Zuhri rahimahullahu, ia berkata, “Aku masuk menemui Anas bin Malik di Damaskus, saat itu ia sedang menangis. Aku pun bertanya, ‘Apa gerangan yang membuat anda menangis?’ Ia menjawab, ‘Aku tidak mengetahui ada suatu amalan yang masih dikerjakan sekarang dari amalan-amalan yang pernah aku dapatkan di masa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam kecuali hanya shalat ini saja. Itupun shalat telah disia-siakan untuk ditunaikan pada waktunya’.” (HR. Al-Bukhari no. 530)

Ada beberapa hadits yang merangkum penyebutan waktu-waktu shalat. Di antaranya hadits Abdullah bin ‘Amr ibnul ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata:

سُئِلَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ وَقْتِ الصَّلَوَاتِ، فَقَالَ: وَقْتُ صَلاَةِ الْفَجْرِ مَا لَمْ يَطْلُعْ قَرْنُ الشَّمْسِ الْأَوَّلِ، وَوَقْتُ صَلاَةِ الظُّهْرِ إِذَا زَالَتِ الشَّمْسُ عَنْ بَطْنِ السَّمَاءِ مَا لَمْ يَحْضُرِ الْعَصْرُ، وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعَصْرِ مَا لَمْ تَصْفَرَّ الشَّمْسُ وَيَسْقُطْ قَرْنُهَا الْأَوَّلُ، وَوَقْتُ صَلاَةِ الْمَغْرِبِ إِذَا غَابَتِ الشَّمْسُ مَا لَمْ يَسْقُطِ الشَّفَقُ، وَوَقْتُ صَلاَةِ الْعِشَاءِ إِلَى نِصْفِ اللَّيْلِ

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang waktu shalat (yang lima), beliau pun menjawab, “Waktu shalat fajar adalah selama belum terbit sisi matahari yang awal. Waktu shalat zhuhur apabila matahari telah tergelincir dari perut (bagian tengah) langit selama belum datang waktu Ashar. Waktu shalat ashar selama matahari belum menguning dan sebelum jatuh (tenggelam) sisinya yang awal. Waktu shalat maghrib adalah bila matahari telah tenggelam selama belum jatuh syafaq1. Dan waktu shalat isya adalah sampai tengah malam.” (HR. Muslim no. 1388)

(lebih…)

NgajiMod 5 Maret 2011: Edisi “outdoor”-Thonburi Park Maret 5, 2011

Posted by NgajiMod in Tak Berkategori.
add a comment

Bismillahirrohmaanirrohim

Alhamdulillah assholatu wassalamu ‘ala rosulillah wa’ala aalihi washohbihi waman waalah

NgajiMod kali ini diadakan cukup spesial, bukan hanya karena materinya yang menarik tetapi juga karena baru pertama kalinya NgajiMod diadakan di “outdoor”. Thonburi Park menjadi pilihan.

 

Menyimak bacaan qur'an

Dengan Moderator Andhy M. Fathoni, kajian diawali dengan pembacaan Al-Qur’an surat Al-A’rof ayat 78 s/d 95. Ayat ini mengisahkan tentang kaum Nabi Luth ‘alaihissalam yang diazab oleh Alloh karena penyimpangan mereka (homoseksual), juga penyimpangan yang dilakukan oleh kaum Nabi Syu’aib Al’laihissalam.  Bertugas sebagai pembaca terjemahan ayat-ayat tersebut  yaitu Mbak Ai Fatimah.

 

Akhwat

Berkenaan dgn kisah-kisah seperti tersebut di atas, mengutip perkataan Syekh Utsaimin rahimahullah, beliau mengatakan: Sesungguhnya dalam menyikapi kisah-kisah tersebut dan semisalnya manusia terbagi menjadi dua kelompok.

Kelompok pertama mereka yg mengetahui dan mengenal Allah beserta tanda-tanda kekuasaan-Nya yg terjadi kemdian mereka mengambil pelajaran dari kejadian yg dialami orang-orang yg telah lalu hingga mereka kembali kepada Allah takut sangat takut apabila mereka tertimpa apa yg telah menimpa orang-orang terdahulu. Allah berfirman ‘Maka apakah mereka tidak mengadakan perjalanan di muka bumi sehingga mereka dapat memperhatikan bagaimana kesudahan orang-orang yg sebelum mereka; Allah telah menimpakan kebinasaan atas mereka dan orang-orang kafir akan menerima seperti itu.’

Adapun kelompok kedua kelompok yg jahil dan tidak mengenal Allah hati mereka kosong dari keimanan dan keras krn kedurhakaan mereka. Mereka berkata ‘Sesungguhnya kejadian-kejadian itu adl alamiah’. Sehingga mereka tidak memperhatikannya dan tidak melihat akibat yg datang dari Allah yaitu akibat bagi orang-orang yg mendustakan Allah dan para rasul-Nya. Kita memohon kepada Allah agar menjadikan kita sebagai orang yg mampu mengambil pelajaran dari tanda-tanda kekuasaan-Nya dan takut akan ancaman dan siksa-Nya. Demikianlah hendaknya kita bisa mengambil pelajaran dari kisah-kisah tersebut dan menambah rasa takut kepada Allah apabila ditimpakan kepada kita apa-apa yg telah ditimpakan terhadap umat-umat terdahulu.

Kajian dilanjutkan dengan penyampain materi oleh Mbak Dede dengan tema silaturrohim.  Beliau membagi materi menjadi 4 bagian yaitu: bagian pertama: bola imajiner sebagai sarana saling mengenal  (ta’aruf) sesama anggota keluarga NgajiMod, bagian kedua: tebak kata kandungan Qur’an dan Hadits beregu, bagian ketiga: penyampaian materi tentang pentingnya silaturrahim, dan bagian keempat atau terakhir isi quesioner tentang kelebihan dan kekurangan teman-teman kita. Alhamdulillah materi-materi tersebut disambut dengan sangat antusias oleh peserta kajian dan Insya Alloh akan sangat bermanfaat untuk bersama-sama memperbaiki diri dan lingkungan dengn saling menasehati amiin.

Menu spesial kajian kali ini adalah pecel ikan asin karya Pak Dian dan Mas Nino. Kepada semua petugas pekan ini diucapkan jazahumullohukhoiron, semoga Alloh subhanahu wata’ala membalas mereka semuanya dengan kebaikan dan pahala yang berlipat amiiin

Sampai jumpa pekan depan insya Alloh..

Video-Ngajimod (atau Pecel-Mod ya kata Mas Batih 🙂 ???

Hot Menu on Bang Mod Maret 4, 2011

Posted by NgajiMod in Kuliner.
Tags:
add a comment

Bagi saudara-saudara yang pernah mencicipi masakan di warung Ni Som…warung yang berada tepat di seberang Masjid Istiqomah Pracha utit road soi 69. pasti kenal ama masakan ini…..

masakan yang simpel..cuma berupa ikan dan bumbu siram segar…nikmat nian…kalo kata pak Bondan..”Nendang banget rasanya…”

dan akhirnya pada suatu saat saya (Nino) bisa memperoleh kesempatan mempelajari resep dari sang empunya resep langsung…Ni Som…..

“Yam Pla Slit” inilah judul makanannya…. berikut resepnya

(lebih…)

NIKMATNYA HIDUP BERSAMA ALLAH Februari 28, 2011

Posted by NgajiMod in Motivasi.
3 comments

Seringkali manusia memiliki persepsi yang berbeda tentang arti kenikmatan yang hakiki, kenikmatan yang sesungguhnya. Orang sekuler atau orang yang tidak beragama berpendapat bahwasannya kenikmatan adalah apa-apa yang dapat memuaskan keinginan nafsu dan memenuhinya selama mampu. Orang yg beragama pun kadang juga memiliki persepsi yang salah tentang kenikmatan sejati, yaitu hanya apa-apa yang disenangi oleh jasmani dan dirasakan secara fisik. Beda halnya dengan orang-orang seperti diatas, orang -orang beriman  (mukmin) memiliki definisi tersendiri dalam memaknai sebuah kenikmatan, yaitu apa-apa yang membuat jiwa dan hati tenang dalam menjalani hidup. Kenikmatan model inilah sesungguhnya kenikmatan yang berkualitas tinggi. Kenikmatan yang demikianlah yang hanya akan didapat oleh siapa-siapa yang mengerti akan kebutuhan jiwanya untuk apa hidupnya, dan bagaimana menjalaninya. Mereka benar-benar mengerti arti hidup sesungguhnya yaitu untuk berbuat yang terbaik semata-mata karena Allah ta’ala, mengabdi dan berbakti sepenuh hati kepada Sang Pencipta.

Hati akan merasa nikmat tatkala mampu beribadah dengan khusyuk, dengan memperbanyak zikir yang tenang, berpuasa di siang hari dan solat malam dikala orang tidur. Kenikmatan yang ditemukan tatkala membantu sesama muslim, meringankan beban mereka dan mengurusi kebutuhannya. Cobalah kita rasakan suatu kali kita pergi kemasjid diawal waktu kemudian solat tahiyyatal masjid kemudian sambil menuggu azan kita membaca beberapa ayat qur’an kemudian memahami artinya, hati akan terasa sejuk dan trenyuh. Kita lanjutkan dengan berzikir, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan kita yang begitu banyak dan mengingat ingat akan amal-amal kita yang sangat sedikit dibandingkan dengan dosa-dosa kita, kalaupun amal itu kelihatannya banyak maka sangat sedikit bahkan mungkin tidak ada yang ikhlas karena Allah ta’ala. Jika kita merutinkan kegiatan-kegiatan seperti itu setiap hari maka kita akan dengan mudah merasakan nikmatnya hidup bersama Allah. Hidup yang senantiasa diisi dengan amal soleh yang ikhlas, tanpa mengharapakan apapun dari manusia dan tidak memberi bagian kepada nafsu sedikitpun.

Hati yang senantiasa terasah untuk selalu merasa dalam pengawasan Allah akan membuat pemiliknya takut melakukan kemaksiatan-kemaksiatan, baik dikala ramai lebih-lebih dikala sendiri. Orang-orang seperti ini tidak ingin kenikmatan hati yang hakiki berupa manisnya iman akan hilang dan dicabut oleh Allah dari dirinya akibat maksiat yang dilakukan, hati yang halus dan bersih diganti dengan hati yang membatu dan sulit menerima kebenaran dan Nur dari Rabbnya. Seringkali banyaknya ibadah yang dilakukan oleh seorang insan seolah hanya sebagai rutinitas yang tidak membekas di hati dan perbuatan di kehidupan sehari-hari. Hal yang sangat mungkin karena disamping dia melakukan amal soleh secara dhohir, disisi lain dia juga melakukan sesuatu yang hina, kemaksiatan dan dosa-dosa yang dianggap remeh, jika yang terjadi demikian maka ibadah yang dilakukan akan sulit membekas kepada pelakunya. Indikator paling mudah adalah berapa banyak orang yang solat namun maksiatnya terus berjalan. Ini menunjukkan solatnya belum benar karena innassholata tanha anil fakhsya’I wal munkar, sesungguhnya solat (yang benar) mencegah (pelakunya) dari perbuatan keji dan mungkar. Kemampuan seorang hamba untuk menikmati solatnya bisa jadi menjadi ukuran kualitas solatnya. Akankah kenikmatan yang sejati berupa hidup bersama Allah dapat diraih oleh orang-orang yang masih belum mampu meninggalkan maksiatnya walaupun ibadahnya banyak ??? saya yakin tidak dan kita memohon kepada Allah agar diselamatkan dari banyaknya ibadah yang tidak membekas dihati, diganti dengan perasaan nikmat ketika beribadah. Allahumma inna nas’aluka ‘ala dzikrika wasyukrika wakhusni ibaadatik… Ya Allah kami mohon kepadamu agar senantiasa berdzikirkepadaMu, bersyukur kepadaMu, dan khusyuk dalam beribadah kepadaMu… amiin.

Abul Arnab Ibnu Ahmad

(Bangkok, 1 Februari 2011: 22:09 PM)

Be a Productive Moslem !! Februari 19, 2011

Posted by NgajiMod in Motivasi.
add a comment