jump to navigation

NIKMATNYA HIDUP BERSAMA ALLAH Februari 28, 2011

Posted by NgajiMod in Motivasi.
3 comments

Seringkali manusia memiliki persepsi yang berbeda tentang arti kenikmatan yang hakiki, kenikmatan yang sesungguhnya. Orang sekuler atau orang yang tidak beragama berpendapat bahwasannya kenikmatan adalah apa-apa yang dapat memuaskan keinginan nafsu dan memenuhinya selama mampu. Orang yg beragama pun kadang juga memiliki persepsi yang salah tentang kenikmatan sejati, yaitu hanya apa-apa yang disenangi oleh jasmani dan dirasakan secara fisik. Beda halnya dengan orang-orang seperti diatas, orang -orang beriman  (mukmin) memiliki definisi tersendiri dalam memaknai sebuah kenikmatan, yaitu apa-apa yang membuat jiwa dan hati tenang dalam menjalani hidup. Kenikmatan model inilah sesungguhnya kenikmatan yang berkualitas tinggi. Kenikmatan yang demikianlah yang hanya akan didapat oleh siapa-siapa yang mengerti akan kebutuhan jiwanya untuk apa hidupnya, dan bagaimana menjalaninya. Mereka benar-benar mengerti arti hidup sesungguhnya yaitu untuk berbuat yang terbaik semata-mata karena Allah ta’ala, mengabdi dan berbakti sepenuh hati kepada Sang Pencipta.

Hati akan merasa nikmat tatkala mampu beribadah dengan khusyuk, dengan memperbanyak zikir yang tenang, berpuasa di siang hari dan solat malam dikala orang tidur. Kenikmatan yang ditemukan tatkala membantu sesama muslim, meringankan beban mereka dan mengurusi kebutuhannya. Cobalah kita rasakan suatu kali kita pergi kemasjid diawal waktu kemudian solat tahiyyatal masjid kemudian sambil menuggu azan kita membaca beberapa ayat qur’an kemudian memahami artinya, hati akan terasa sejuk dan trenyuh. Kita lanjutkan dengan berzikir, mengingat-ingat kesalahan-kesalahan kita yang begitu banyak dan mengingat ingat akan amal-amal kita yang sangat sedikit dibandingkan dengan dosa-dosa kita, kalaupun amal itu kelihatannya banyak maka sangat sedikit bahkan mungkin tidak ada yang ikhlas karena Allah ta’ala. Jika kita merutinkan kegiatan-kegiatan seperti itu setiap hari maka kita akan dengan mudah merasakan nikmatnya hidup bersama Allah. Hidup yang senantiasa diisi dengan amal soleh yang ikhlas, tanpa mengharapakan apapun dari manusia dan tidak memberi bagian kepada nafsu sedikitpun.

Hati yang senantiasa terasah untuk selalu merasa dalam pengawasan Allah akan membuat pemiliknya takut melakukan kemaksiatan-kemaksiatan, baik dikala ramai lebih-lebih dikala sendiri. Orang-orang seperti ini tidak ingin kenikmatan hati yang hakiki berupa manisnya iman akan hilang dan dicabut oleh Allah dari dirinya akibat maksiat yang dilakukan, hati yang halus dan bersih diganti dengan hati yang membatu dan sulit menerima kebenaran dan Nur dari Rabbnya. Seringkali banyaknya ibadah yang dilakukan oleh seorang insan seolah hanya sebagai rutinitas yang tidak membekas di hati dan perbuatan di kehidupan sehari-hari. Hal yang sangat mungkin karena disamping dia melakukan amal soleh secara dhohir, disisi lain dia juga melakukan sesuatu yang hina, kemaksiatan dan dosa-dosa yang dianggap remeh, jika yang terjadi demikian maka ibadah yang dilakukan akan sulit membekas kepada pelakunya. Indikator paling mudah adalah berapa banyak orang yang solat namun maksiatnya terus berjalan. Ini menunjukkan solatnya belum benar karena innassholata tanha anil fakhsya’I wal munkar, sesungguhnya solat (yang benar) mencegah (pelakunya) dari perbuatan keji dan mungkar. Kemampuan seorang hamba untuk menikmati solatnya bisa jadi menjadi ukuran kualitas solatnya. Akankah kenikmatan yang sejati berupa hidup bersama Allah dapat diraih oleh orang-orang yang masih belum mampu meninggalkan maksiatnya walaupun ibadahnya banyak ??? saya yakin tidak dan kita memohon kepada Allah agar diselamatkan dari banyaknya ibadah yang tidak membekas dihati, diganti dengan perasaan nikmat ketika beribadah. Allahumma inna nas’aluka ‘ala dzikrika wasyukrika wakhusni ibaadatik… Ya Allah kami mohon kepadamu agar senantiasa berdzikirkepadaMu, bersyukur kepadaMu, dan khusyuk dalam beribadah kepadaMu… amiin.

Abul Arnab Ibnu Ahmad

(Bangkok, 1 Februari 2011: 22:09 PM)

Be a Productive Moslem !! Februari 19, 2011

Posted by NgajiMod in Motivasi.
add a comment

 

Mengenal Ulama Februari 18, 2011

Posted by NgajiMod in Tak Berkategori.
1 comment so far

Ustadz Abdullah Sholeh Ali Hadrami


Dilahirkan di kota dingin nan sejuk Malang Jawa Timur pada hari Jum’at 27 Dzul Qa’dah 1391 Hijriyyah bertepatan dengan 14 Januari 1972 Masehi dari rahim Bunda tercinta, Ruqayyah –Rahimahallah. Diberi nama Abdullah yang artinya Hamba Allah oleh Ayahanda tercinta Sholeh (Saleh) Ali Hadrami.

Alamat Domisili
Malang Jawa Timur Indonesia (Afwan alamat tidak disertakan untuk kemaslahatan)
Website : http://www.hatibening.com atau http://www.kajianislam.net
Facebook : http://www.facebook.com/hatibening

Download Ceramah Ustadz Abdullah Sholeh Hadrami

Pendidikan
Mengenyam pendidikan di TK dan MI At-Taroqqie Malang, MTs Negeri Malang 1, kemudian sempat di SMA satu semester tapi nggak kerasan, akhirnya masuk Pondok Pesanteren Darul Lughoh Wad Dakwah Bangil Pasuruan (Al-Ustadz Hasan Baharun –Rahimahullah) tapi cuma tiga bulan (maklum masih anak Ummi, kata orang jawa mbok-mbok en). Setelah itu pindah ke Pon Pes Darut Tauhid Malang (Al-Ustadz Abdullah Awad Abdun –Rahimahullah) sampai selesai 4 tahun.

Para Asatidz/Guru
Para Asatidz (Guru) Ketika Di Malang, diantaranya:
Ayah beliau; Sholeh bin Ali Al-Hadrami –Hafidhahullah, Beliau adalah guru pertama yang mengajarkan Al-Qur’an, bahasa Arab dan mengenalkan kepada Allah, RasulNya dan agama Islam.

  1. Al-Ustadz Umar bin Ahmad Kodah –Rahimahullah
  2. Al-Ustadz Umar bin Mubarak Bavana –Rahimahullah
  3. Al-Ustadz Awad bin Abdullah Bavana –Rahimahullah
  4. Al-Ustadz Ahmad bin Salim Alaydrus –Rahimahullah
  5. Al-Ustadz Alwy bin Salim Alaydrus –Rahimahullah
  6. Al-Ustadz Hasan bin Salim Alaydrus –Rahimahullah
  7. Al-Ustadz Abdullah Awad Abdun –Rahimahullah
  8. Al-Ustadz Munirul Anam –Hafidhahullah
  9. Al-Ustadz Amrizal Arif –Hafidhahullah

Dan Para Asatidz lainnya yang tidak mungkin disebutkan semuanya, Jazahumullah Khoir, amien.

Melanjutkan kuliah di LIPIA Jakarta 3 tahun, kemudian mendapat beasiswa untuk mulazamah (berguru) ke Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin –Rahimahullah di Unaizah-Al Qasim Kerajaan Saudi Arabia selama empat tahun, 22 Dzul Hijjah 1417 H/ 30 April 1997 M sampai 15 Muharran 1422 H/ 9 April 2001 M sekaligus mengajar Tenaga Kerja Indonesia di Islamic Center Unaizah kalau malam.

Dosen-dosen ketika kuliah di LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Bahasa Arab, cabang dari Universitas Islam Imam Muhammad bin Saud Riyad, KSA), diantaranya:

  1. Al-Ustadz Ali Al-Qu’aidlib –Hafidhahullah (KSA)
  2. Al-Ustadz Ali Al-Madkhali –Hafidhahullah (KSA)
  3. Al-Ustadz Hijazi –Hafidhahullah (Mesir)
  4. Al-Ustadz Mahmud Al-Farraj –Hafidhahullah (Mesir)
  5. Al-Ustadz Jazuli –Hafidhahullah (Sudan)
  6. Al-Ustadz Muhammad Thayyib –Hafidhahullah (Sudan)
  7. Al-Ustadz Hasan –Hafidhahullah (Somalia)
  8. Al-Ustadz Salim Segaf Al-Jufri –Hafidhahullah (Indonesia)
  9. Al-Ustadz Muhammad Yusuf Harun –Hafidhahullah (Indonesia)

Dan Para Dosen lainnya yang tidak mungkin disebutkan semuanya, Jazahumullah Khoir, amien.

Mula-mula mulazamah di Saudi Arabia selama dua tahun lalu pulang untuk menikah dengan gadis idaman Ummu Abdil Qowiy, tetangga sendiri dan adik kelas ketika di MTsN. Setelah menikah sempat berkumpul beberapa bulan lalu kembali lagi ke Saudi Arabia melanjutkan mulazamah.

Ternyata berat juga meninggalkan isteri tercinta, maklum pengantin baru. Akhirnya beliau meminta ijin ke Syaikh Utsaimin –Rahimahullah untuk mendatangkan isteri dan alhamdulillah disetujui. Pulang ke Indonesia untuk menjemput zaujah (isteri) dan akhirnya mereka berangkat ke Unaizah-Saudi.

Sampai di Unaizah untuk sementara mereka tinggal di rumah sahabat setia yang tak mungkin terlupakan Syaikh Abul Hasan Ali bin Salim bin Ya’kub Bawazir dari Yaman, beliau bersama keluarganya tinggal di Sakan Thullab (Apartemen Mahasiswa) milik Syaikh Utsaimin –Jazahumullah Khoir. Beberapa hari kemudian beliau pindah ke rumah yang dikontrakkan oleh Syaikh Utsaimin –Rahimahullah lengkap dengan semua peralatan dan perabot rumah tangga, alhamdulillah.

Pada hari Rabu 15 Syawal 1421 H bertepatan 10 Januari 2001 M menjelang Maghrib beliau dikagetkan dengan berita wafatnya Guru tercinta Fadhilatusy Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Sholeh Al-Utsaimin –Rahimahullah di RS Jeddah. Jenazah Beliau di shalatkan di Masjidil Haram Makkah pada hari Kamis 16 Syawal 1421 oleh ratusan ribu kaum muslimin dan dikuburkan di Makkah.

Pada musim haji 1421 H / 2001 M Al-Ustadz Abdullah Sholeh Ali Hadrami dan murid-murid Syaikh Utsaimin yang sudah berkeluarga mendapat kesempatan haji bersama keluarga. Baru selesai melaksanakan haji dan ketika dalam perjalanan pulang ke Unaizah beliau mendapat kabar dari Indonesia bahwa Ibunda tercinta, Ruqayyah -Rahimahallah, dipanggil Allah, tepatnya pada 15 Dzul Hijjah 1421 H / 11 Maret 2001 M… Innaa lillaah wa innaa ilaihi raaji’uun… Semoga Allah Merahmatimu Ummi.

Tahun ini adalah tahun kesedihan, karena dua orang besar dalam hidup beliau dipanggil Allah dalam waktu berdekatan dan terasa beruntun, Guru Tercinta dan Bunda Tersayang… Semoga Mereka Damai dan Bahagia Di Sana. Pada 15 Muharran 1422 H/ 9 April 2001 M Al-Ustadz Abdullah Sholeh Ali Hadrami kembali ke Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Selama di Saudi Arabia
Selama di Saudi Arabia, disamping mulazamah ke Fadhilatusy Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin – Rahimahullah, Alhamdulillah beliau sempat bertemu dan menghadiri Majelis Para Ulama, diantaranya:

  1. Fadhilatusy Syaikh Abdul ‘Aziz bin Abdullah Alu Syaikh –Hafidhahullah
  2. Fadhilatusy Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman Al-Bassaam –Rahimahullah
  3. Fadhilatusy Syaikh Abdullah bin Abdur Rahman bin Jibrin –Hafidhahullah
  4. Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan –Hafidhahullah
  5. Fadhilatusy Syaikh Shalih bin Muhammad Al-Luhaidan –Hafidhahullah
  6. Fadhilatusy Syaikh Ahmad bin Yahya An-Najmi –Hafidhahullah
  7. Fadhilatusy Syaikh Abu Bakar bin Jabir Al-Jaza’iri –Hafidhahullah
  8. Fadhilatusy Syaikh Abdul Muhsin Al-‘Abbad –Hafidhahullah
  9. Fadhilatusy Syaikh Abdur Razzaq bin Abdul Muhsin Al-‘Abbad Al-Badr –Hafidhahullah
  10. Fadhilatusy Syaikh Khalid Al-Mushlih –Hafidhahullah
  11. Fadhilatusy Syaikh Abdur Rahman Ad-Dahsy –Hafidhahullah
  12. Fadhilatusy Syaikh Sami As-Suqayyir –Hafidhahullah
  13. Fadhilatusy Syaikh Abul Hasan Ali bin Salim Bawazir –Hafidhahullah
  14. Fadhilatusy Syaikh Ibrahim Ad-Duwaisy –Hafidhahullah
  15. Fadhilatusy Syaikh Salman bin Fahd Al-‘Audah –Hafidhahullah

Dan Para Masyayikh lainnya yang tidak mungkin disebutkan semuanya, Jazahumullah Khoir, amien.

Di Yaman

(lebih…)

ADAB MENUNTUT ILMU Februari 18, 2011

Posted by NgajiMod in Tak Berkategori.
add a comment

Oleh : Ustadz Abdullah Shaleh Al Hadrami

Dikutip dari salah satu materi Pengajian Umum “Indahnya Islam” pada tanggal 22-24 Mei 2005 bertempat di Masjid Raden Patah Universitas Barwijaya, Malang Jawa Timur

Mukaddimah:

Segala puji hanya bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala, shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam, keluarga, para sahabat dan pengikut setia mereka sampai hari kiamat, Amma ba’du:

Allah telah menjaga pertahanan kaum muslimin dengan mujahidin (orang-orang yang berjihad) dan menjaga syariat Islam dengan para penuntut ilmu, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya (ke medan perang). Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At Taubah:122)

Pada ayat tersebut, Allah membagi orang-orang yang beriman menjadi dua kelompok, mewajibkan kepada salah satunya berjihad fi sabilillah dan kepada yang lainnya mempelajari ilmu agama. Sehingga tidak berangkat untuk berjihad semuanya karena hal ini menyebabkan rusaknya syariat dan hilangnya ilmu, dan tidak pula menuntut ilmu semuanya sehingga orang-orang kafir akan mengalahkan agama ini. Karena itulah Allah mengangkat derajat kedua kelompok tersebut. (Hilyah al ‘Alim al Mu’allim, Salim al Hilaliy hl:5-6)

Yang dimaksud dengan ilmu tersebut adalah ilmu syar’i, yaitu ilmu yang Allah turunkan kepada Nabi-Nya Shalallahu ‘Alaihi Wassalam berupa keterangan dan petunjuk. Jadi ilmu yang dipuji dan disanjung adalah ilmu wahyu, ilmu yang Allah turunkan saja. Sebagaimana sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:

“Barangsiapa yang Allah menghendaki padanya kebaikan maka Dia akan menjadikannya mengerti masalah agama.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beliau Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda pula:

“Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham, hanya saja mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya berarti ia mengambil nasib (bagian) yang banyak.” (HR. Abu Dawud dan At Tirmidzi)

Sebagaimana telah kita ketahui bahwasanya yang diwariskan oleh para nabi adalah ilmu syariat Allah dan bukan yang lainnya. (Kitab al ‘Ilmi, Syaikh Utsaimin hal:11)

Hukum Menuntut Ilmu Syar’i

Menuntut ilmu syar’i adalah fardlu kifayah yaitu apabila telah mencukupi (para penuntut ilmu) maka bagi yang lain hukumnya adalah sunnah, namun bisa juga menjadi wajib bagi tiap orang atau fardlu ‘ain yaitu ilmu tentang ibadah atau muamalah yang hendak ia kerjakan. (Kitab al ‘Ilmi, Syaikh Utsaimin hal:21)

Penuntut Ilmu Hendaklah Menghiasi Dirinya Dengan Adab-Adab Sebagai Berikut:

Pertama: Mengikhlaskan Niat Hanya Karena Allah

Hendaklah dalam menuntut ilmu niatnya adalah wajah Allah dan kampong akhirat, sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam:

“Barangsiapa menuntut ilmu-yang mestinya untuk mencari wajah Allah-, tiadalah ia mempelajarinya melainkan hanya untuk mendapatkan bagian dari dunia, pasti ia tidak akan mendapatkan bau surga pada hari kiamat.” (HR. Ahmad dll). Ini adalah ancaman yang keras. (Kitab al ‘Ilmi, Syaikh Utsaimin hal :25)

Apabila ilmu telah kehilangan niat yang ikhlas; berpindahlah ia dari ketaatan yang paling afdhal menjadi penyimpangan yang paling rendah. Diriwayatkan dari Sufyan ats Tsauri rahimahullah berkata: “Tiadalah aku mengobati sesuatu yang lebih berat dari niatku.”

Dari Umar bin Dzar bahwasanya ia berkata kepada ayahnya: “Wahai ayahku! Mengapa orang-orang menangis apabila ayah menasehati mereka, sedang mereka tidak menangis apabila orang lain yang menasehati mereka?” Ayahnya menjawab:” Wahai puteraku! Tidak sama ratapan seorang ibu yang ditinggal mati anaknya dengan ratapan wanita yang dibayar (untuk meratap). (Hilyah Tholibil ‘Ilmi, Bakr Abu Zaid hal: 9-10)

(lebih…)